1) Gunakan induk unggul, seperti induk lele sangkuriang atau lele phiton. Tujuannya agar benih yang dihasilkan juga berkualitas. Ciri lele berkualiatas, di antaranya cepat tumbuh besar, benih seragam, tingkat kelangsungan hidup (SR) tinggi, dan lebih tahan terhadap serangan penyakit.
2) Lakukan pemijahan secara intensif. Sementara itu, teknik pemijahannya secara semiintensif dengan penggunaan hormon perangsang agar penjadwalan produksi dapat dilakukan lebih tepat. Teknik pemijahan ini lebih baik dibandingkan teknik pemijahan secara alarm dan intensif.
3) Berikan pakan yang tepat, baik jumlah maupun kualitasnya. Induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein minimal 30% serta pakan tambahan berupa bekicot, keong mas, dan limbah peternakan ayam. Pemberian pakan yang berkualitas akan mempercepat pematangan telur serta meningkatkan daya tetas dan kelangsungan hidup benih.
4) Lakukan pengelolaan kualitas air kolam dengan baik. Perbaikan kualitas air pada kolam induk dapat meningkatkan nafsu makan induk lele sehingga pembentukan dan pematangan gonad dapat berlangsung dengan baik. Pada wadah penetasan telur, faktor kualitas air menentukan tingkat daya tetas telur. Pengelolaan air di wadah pemeliharaan benih meliputi penggantian air secara berkala, pemberian aerasi, dan pemberian garam dapur setiap 10 hari sekali untuk mencegah serangan penyakit.
5) Pilih lokasi penetasan dan pemeliharaan benih yang terlindung dari pengaruh faktor lingkungan, seperti curah hujan, cuaca, suhu, angin, dan hama predator. Perubahan suhu dengan perbedaan besar dan terjadi dalam waktu singkat dapat menyebabkan tubuh ikan tidak dapat beradaptasi sehingga akan berakibat fatal. Tempat pemeliharaan larva harus terlindung, seperti ruang hatchery. Jika pemeliharaan di ruang terbuka, media pemeliharaan diberi naungan atau atap yang terbuat dari seng, terpal, atau pelepah daun kelapa.
6} Gunakan probiotik jika diperlukan. Pemberian probiotik pada lele bertujuan untuk memperbaiki kualitas air kolam, meningkatkan nafsu makan ikan, dan meminimalkan serangan penyakit.
7) Perhatikan faktor-faktor nonteknis lain. Adapun faktor nonteknis yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
• Membentuk sebuah kelompok pembenih dan kompak menghadapi tengkulak.
• Melakukan kerja sama kemitraan dengan perusahaan pakan atau pengolahan ikan mengenai manajeman kelompok, teknis pembibitan, dan pakan.
• Pembenih ikan lele dituntut tekun, ulet, sabar, dan terus belajar serta mengembangkan berbagai informasi teknologi pembenihan.
(sumber : Kholish Mahyudin, SPi., MM./Panduan Lengkap Agribisnis Lele)
4 komentar:
Kebutuhan akan ikan lele ukuran konsumsi cukup besar tetapi produksi belum mencukupi. Pacu terus wahai pembudidaya ikan untuk menguasai pasar ikan. Saat ini JKMPP juga menerima pesanan ikan nila dan belut besar-besaran. Ayo siapa cepat dia yang dapat.
Bagi atuh benih nilanya... Nuhun
Ass.
Pak Sumadi salam buat bapak dan temen2 di JKMPP dari saya di BBPPK Lembang. Semoga kelompoknya \semakin berkembang dan sukses
Lele... hmmmh enaakk
Posting Komentar